SEPENGGAL KISAH KERATUAN DARAH PUTIH, HINGGA LAHIRNYA SANG PAHLAWAN NASIONAL, "RADEN INTAN II".

Oleh : Muhammad Candra Syahputra
Makam Ratu Darah Putih (Muhammad Aji Saka). AHMC/MCS

Keratuan Darah Putih adalah salah satu Keratuan yang menganut agama Islam yang terletak di Kabupaten Lampung Selatan.


Dalam sejarahnya sosok Ratu Darah Putih adalah putra dari Syarif Hidayatullah yang lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Djati. Ketika Sunan Gunung Djati menjadi Sultan Cirebon dan kemudian mendirikan Kesultanan Banten, Sunan Gunung Djati melihat pancaran cahaya yang tegak menembus langit, dan beliaupun mendatangi tempat dimana cahaya itu keluar, dan ternyata cahaya itu keluar dari Keratuan Pugung Lampung Timur.

Pada saat mendatangi Keratuan Pugung Sunan Gunung Djati melihat Putri dari Ratu Pugung yaitu Putri Sinar Alam, ketika Sunan Gunung Djati mengutarakan maksud untuk menikahi Putri Sinar Alam sangat disayangkan Ratu Pugung tidak menyetujuinya dikarenakan Putri Pertama tidak boleh menikah dengan selain Keturunan Keratuan Pugung, untuk mengobati kekecewaan Sunan Gunung Djati, Ratu Pugung menikahkan Sunan Gunung Djati dengan keponakannya. Dari Sunan Gunung Djati, keponakan Ratu Pugung mendapatkan keturunan dan diberi nama Minak Gejala Bidin. 

Sekembalinya Sunan Gunung Djati ke Cirebon ia melihat kembali pancaran sinar yang terlihat seperti awal mengunjungi Keratuan Pugung.  Akhirnya setelah setahun berlalu Sunan Gunung Djati kembali mengunjugi Keratuan Pugung dan beliaupun akan menikahi Putri Sinar Alam. Untuk kesempatan kali ini disetujui oleh Ratu Pugung lalu dinikahkan dengan Putri Pertamanya. 

Ketika Putri Sinar Alam melahirkan putranya, Sunan Gunung Djati tidak sedang ada di Keratuan Pugung dan anak itu diberi nama Minak Gejala Ratu.

Saat Minak Gejala Bidin dan Minak Gejala Ratu besar, mereka berdua penasaran dengan ayah mereka, karena hingga mereka dewasa Sunan Gunung Djati belum pernah mengunjungi kedua putranya ini. merekap bertanya " siapa ayah kami?, dimana ayah kami?" Ibunda mereka menjawab "Ayah kalian adalah seorang Sultan, Ia ada di Cirebon". mendengar jawaban itu, mereka berduapun segera berangkat untuk menemui ayah mereka dengan menaiki perahu.

Sesampainya di pertengahan jalan sang kakak yaitu Minak Gejala Bidin merasa Cincinnya tertinggal, iapun memerintahkan adiknya untuk kembali dan mengambil Cincinnya itu. Ketika Minak Gejala Ratu kembali untuk mengambil Cincin, ibunya berkata "cincin kakakmu sudah aku selipkan di perbekalan".

Merasa menunggu lama, Minak Gejala Ratu akhirnya meninggalkan adiknya untuk menuju Cirebon sendirian. Sesampainya di kesultanan Cirebon, ia diasambut oleh Sang Ayah. Minak Gejala Ratu diberikan  bekal (harta) yang cukup banyak sebelum kemudian ia kembali ke Lampung. 

Malangnya, sang adik yang melihat kakaknya sudah berangkat terlebih dahulu, akhirnya berangkat juga seorang diri. Ketika menghadap di Kesultanan Cirebon, Minak Gejala Ratu tidak diakui karena baru saja kakaknya yang juga mengaku sebagai putranya dari ibu yang berasal dari keturunan Keratuan Pugung.

Dengan tidak menyerah, Minak Gejala Ratu terus berusaha meyakinkan sang ayah, akhirnya sang ayahpun berkata "Jika kamu anakku, maka darahmu berwarna putih" akhirnya Minak Gejala Ratu mengambil padi dan ditorehkan di keningnya kamudian mengeluarkan dan meneteskan darah berwarna putih. Melihat itu Sunan gunung Djati percaya lalu kemudian mengganti namanya menjadi 'Muhammad Aji Saka'. ia diberi warisan  berupa peti kecil, dan ayahnya berpesan "buka peti itu dimana hatimu merasa pas akan tempat itu". Akhirnya Muhammad Aji Saka berlayar ke Lampung.

Ditengah-tengah berlabuh, Muhammad Aji Saka merasa saat itu adalah waktu yang tepat untuk membuka peti. Akhirnya iapun membukanya. Saat peti sudah terbuka, sungguh tak disangka isi peti tersebut berterbangan dan menjadi pasukan. Pasukan  itulah yang nantinya menjadi kekuatan Muhammad Aji Saka untuk mendirikan Keratuan. Karena darah putihnya maka keratuan tersebut diberi nama "Keratuan Darah Putih" pada Abad ke-15. Kemudian Ratu Darah Putih menikah dengan Putri Sultan Aceh yang bernama Putri Tun Penatih, adapun makam Ratu Darah Putih berasama sang istri yaitu terletak di Keramat Saksi, Kuripan Penengahan. Dari Ratu Darah Putih inilah nantinya akan menurunkan pahlawan nasional Lampung yaitu Raden Intan II. (NRF)


Sumber : diolah dari berbagai sumber
Share:

No comments:

Post a Comment

TINGGALKAN PESAN/SARAN/KOMENTAR ANDA DI BAWAH INI;